Kemarau Panjang, BPBD Pangkalpinang Catat Permintaan Air Bersih Meningkat
Terabasnews, Pangkalpinang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang mencatat permintaan pasokan air bersih meningkat pada September 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini terjadi seiring kemarau panjang yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober.
Kepala BPBD Kota Pangkalpinang, Dedy Revandi, mengatakan peningkatan kebutuhan air bersih menjadi salah satu dampak musim kemarau yang mulai dirasakan masyarakat.
“Menurut informasi yang disampaikan BMKG, untuk kemarau di Kota Pangkalpinang ini akan berlangsung sampai dengan Oktober,” ujar Dedy, Selasa (22/9/2026).
Berdasarkan data BPBD, permintaan air bersih dari masyarakat pada September mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan warga terhadap pasokan air untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
“Untuk kekeringan September ini, sesuai data yang kami miliki, pada bulan September ini meningkat kebutuhan air bersih kepada masyarakat dibandingkan bulan sebelumnya,” katanya.
Menurut Dedy, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kemarau yang berlangsung cukup panjang dapat menyebabkan masyarakat mengalami keterbatasan sumber air bersih.
Pemerintah Kota Pangkalpinang terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi berbagai dampak musim kemarau. Selain persoalan ketersediaan air bersih, kondisi cuaca kering juga meningkatkan perhatian terhadap potensi kebakaran.
Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin Masyarif, meminta BPBD memperkuat langkah pencegahan dan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran selama musim kemarau.
“Saya memerintahkan BPBD untuk terus melakukan langkah-langkah antisipatif dan preventif terhadap potensi kebakaran. Kesiapsiagaan harus ditingkatkan agar kejadian yang tidak kita inginkan dapat dicegah sedini mungkin,” ujarnya.
Pemerintah kota mendorong upaya pencegahan dilakukan selama periode kemarau masih berlangsung. Langkah tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko bencana sekaligus membantu masyarakat menghadapi dampak kekeringan.
Dengan perkiraan musim kemarau berlangsung hingga Oktober 2026, kebutuhan air bersih dan potensi kebakaran menjadi dua hal yang perlu diantisipasi melalui kesiapsiagaan serta koordinasi antarpihak terkait.