Triwulan I 2023, Ekonomi Bangka Belitung Tumbuh Positif sebesar 4,37% _( yoy)_
TerabasNews, Pangkalpinang -Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung terus berlanjut pada triwulan I 2023. Berdasarkan rilis BPS, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bangka Belitung tumbuh 4,37% (yoy), melambat dibandingkan triwulan IV 2022 yang tumbuh 4,44% (yoy). Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen tumbuh positif kecuali ekspor barang dan jasa. Sedangkan berdasarkan Lapangan Usaha (LU), PDRB terutama ditopang dari LU pertanian dan industri pengolahan.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 2,99% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,62% (yoy). Kinerja konsumsi rumah tangga ditopang oleh pencabutan kebijakan PPKM yang dimulai akhir tahun 2022, serta peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadhan. Di sisi lain, penyaluran Bansos dan PKH yang tertunda di awal tahun 2023 menahan laju konsumsi lebih lanjut. Selanjutnya, investasi (PMTB) pada triwulan I tumbuh sebesar 1,70% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,71 (yoy) karena dipengaruhi pola siklikal tahunan. Konsumsi pemerintah tumbuh signifikan sebesar 8,00% (yoy) ditopang oleh realisasi APBD yang cukup optimal. Selanjutnya, ekspor luar negeri mengalami kontraksi sebesar 31,63% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 18,08% (yoy). Penurunan ekspor luar negeri dipengaruhi oleh penurunan ekspor timah sebesar -34,36% (yoy) yang memiliki kontribusi sebesar 86% terhadap total ekspor Babel.
Laju konsumsi rumah tangga yang meningkat sejalan dengan pertumbuhan kredit konsumsi yang tumbuh positif. Jumlah kredit konsumsi berdasarkan lokasi Bank di Bangka Belitung tumbuh 7,83% (yoy) pada triwulan I 2023. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perorangan di perbankan terkontraksi 5,91% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 2,83% (yoy).
Di sisi lapangan usaha, sebagian besar LU menunjukkan kinerja positif khususnya LU utama yaitu Pertanian dan Industri Pengolahan. LU pertanian tumbuh sebesar 8,83% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,66% (yoy). Pertumbuhan LU pertanian didorong oleh peningkatan produksi perikanan dan perkebunan sejalan dengan peningkatan produksi budidaya udang vaname serta kenaikan harga komoditas seperti Lada, Karet dan CPO. Sementara itu, LU industri pengolahan tumbuh sebesar 2,33% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 10,28% (yoy). Kinerja industri pengolahan utamanya ditopang oleh sub kategori industri makanan dan minuman terutama minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya yang mengalami peningkatan produksi di tengah tren harga yang membaik. Sementara itu, penurunan ekspor logam timah menahan laju pertumbuhan industri pengolahan lebih lanjut. LU perdagangan terkontraksi 1,02% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,01% (yoy). Penurunan kinerja sektor perdagangan sejalan dengan penjualan kendaraan baru yang turun signifikan. Akan tetapi, volume perdagangan ritel di wilayah Bangka Belitung yang masih tumbuh menahan penurunan lebih lanjut. Selanjutnya, lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 2,49% (yoy). Kinerja pertambangan dan penggalian tertahan oleh tren harga timah dunia yang masih terkontraksi serta belum finalnya pesetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) komoditas timah di awal tahun.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan terus membaik seiring menguatnya konsumsi domestik. Sejalan dengan hal tersebut, hasil survei konsumen Bank Indonesia pada triwulan I 2023 juga menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian ke depan (Indeks Ekspektasi Konsumen) berada di level optimis sebesar 127,72. Di sisi lain, harga komoditas strategis seperti timah dan CPO global diperkirakan tidak setinggi pada periode sama tahun lalu sehingga berpotensi menahan laju kinerja ekonomi di 2023.
Untuk itu, ke depan Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi serta mendorong Pemerintah Daerah dan mitra strategis lainnya dalam memperkuat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru antara lain di sektor pertanian khususnya sub-sektor pangan dan hortikultura, pariwisata, hilirisasi/industrialisasi komoditas unggulan Babel yang lebih berkelanjutan (green), termasuk penguatan kapasitas UMKM melalui capacity building serta on boarding, dan penguatan digitalisasi daerah. Di samping itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan Pemda dalam implementasi program-program pengendalian inflasi daerah sehingga angka inflasi Babel dapat semakin terkendali dan diharapkan dapat mendukung pemulihan ekonomi di 2023. (**)