JFX Gelar Media Masterclass, Perkuat Pemahaman Industri Timah dan Perdagangan Bursa
TerabasNews, PANGKALPINANG – Jakarta Futures Exchange (JFX) menyelenggarakan kegiatan Media Masterclass sebagai langkah strategis untuk mempererat hubungan kemitraan dengan insan pers, sekaligus meningkatkan pemahaman mendalam mengenai industri timah serta mekanisme perdagangan yang berlangsung di bursa. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 19 Mei 2026.
Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan utama membangun sinergi yang erat antara JFX selaku penyelenggara bursa timah dengan para awak media, khususnya yang beroperasi di wilayah Kepulauan Bangka Belitung yang dikenal sebagai salah satu pusat industri timah terbesar di Indonesia.
“Melalui acara ini, kami berkeinginan memberikan pemahaman menyeluruh kepada rekan-rekan media mengenai profil JFX, sejarah panjang perdagangan timah, hingga mekanisme transaksi yang berjalan saat ini. Hal ini dilakukan agar setiap pemberitaan yang terkait dengan industri timah dapat lebih akurat, tepat sasaran, dan berbasis data yang benar,” ujar Yazid saat memimpin kegiatan Media Masterclass tersebut.
Ia menjelaskan bahwa peran JFX tidak hanya terbatas sebagai wadah yang mempertemukan pihak pengolah bijih timah (smelter) atau eksportir dengan para pembeli dalam transaksi perdagangan fisik. Lebih dari itu, JFX memiliki visi besar untuk mengembangkan instrumen keuangan derivatif sebagai bagian dari upaya penguatan dan pengembangan ekosistem industri timah nasional secara berkelanjutan.
Menurut Yazid, pengembangan kontrak derivatif memiliki arti penting dalam menciptakan proses penemuan harga (price discovery) yang transparan, serta menjadikan Indonesia sebagai acuan utama penentuan harga timah di pasar dunia.
“Kontrak fisik timah yang diperdagangkan di bursa kita saat ini telah digunakan sebagai acuan harga, tidak hanya oleh pelaku pasar di dalam negeri, tetapi juga telah diakui dan digunakan oleh para pelaku pasar dari luar negeri,” ungkapnya.
Yazid menambahkan, sebelum kehadiran dan perkembangan JFX, para pelaku pasar timah dunia umumnya menjadikan Kuala Lumpur Tin Market (KLTM) sebagai rujukan setelah London Metal Exchange (LME). Namun, seiring berjalannya waktu dan pengelolaan yang profesional, saat ini JFX telah menempati posisi sebagai bursa referensi harga timah fisik terbesar kedua di dunia, tepat setelah LME.
“Cita-cita dan tujuan besar kami tidak hanya berhenti di pasar fisik semata, tetapi juga terus mengembangkan kontrak derivatif seperti kontrak berjangka (futures) dan opsi atas kontrak berjangka (option on futures). Langkah ini diambil agar Indonesia memiliki posisi tawar dan pengaruh yang jauh lebih kuat dalam peta perdagangan timah tingkat global,” tegasnya.
Selain fokus pada pengembangan instrumen derivatif, JFX juga tengah menyiapkan penguatan ekosistem industri timah secara menyeluruh. Hal ini dilakukan melalui pengembangan sistem pergudangan, skema pembiayaan, hingga sistem pencatatan stok timah nasional yang terintegrasi, dengan bekerja sama secara strategis bersama Kliring Berjangka Indonesia.
Menurut Yazid, ketersediaan data yang lengkap, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan merupakan kunci utama untuk meningkatkan kepercayaan para pelaku pasar global agar mau bertransaksi dan berinvestasi melalui bursa yang ada di Indonesia.
Ke depannya, JFX berencana untuk terus menghadirkan berbagai kegiatan inovatif dan edukatif yang melibatkan unsur media. Hal ini menjadi bagian dari komitmen bursa dalam mendukung penuh perkembangan, kemajuan, dan kemandirian industri timah nasional di masa mendatang. (**)