Menembus Pasar Peru: Pemprov inisiasi Business Pitching Produk Lada dan Essensial Oil Bangka Belitung.
TerabasNews, Pangkalpinang- Melalui kegiatan business pitching, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memperkenalkan produk pelaku usaha asal Bangka Belitung berupa lada dan essensial Oil ke Negara Peru.
Diinisiasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bangka Belitung, kegiatan business pitching tersebut difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia (RI) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Lima Peru, pada Rabu pagi (10/6) di Kantor Disperindag Babel.
Kegiatan yang di hadiri oleh para pengusaha UMKM Babel dengan produk lada dan essensial oil yaitu : Billiton Spice, PT Makro Jaya Lestari dan Cultivia-PT Senara Harta Indo Loka dan Setditjen Kementerian Luar Negeri Dadang Rahmat dan Ketrin Triwidiastuty, serta Kabid Sarana Perdagangan dan Pengembangan Eskpor Disperindag Babel Agus Setia Rini, bersama Ketua dan Anggota tim kerja Pengembangan Ekspor, kegiatan itu memaparkan produk UMKM jenis lada Babel ke Peru.
Dalam pertemuan tersebut, KBRI V Peru Wahid Fairus Azis sebagai Counsellor Fungsi Ekonomi dalam paparanya menjelaskan, bahwa potensi ekspor produk merica dan essensial oil Indonesia ke Peru sangat tinggi.
Oleh sebab itu, ada peluang besar bagi produk UMKM Babel yaitu lada dan essensial Oil untuk di pasarkan ke negara Peru, mengingat Peru dan Indonesia telah memiliki hubungan dan perjanjian bilateral, didukung oleh perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif CEPA (2025), sehingga nilai perdagangan Indonesia ke Peru dari tahun ke tahun terus meningkat.
“Peru mengimpor merica senilai 10,32 juta USD pada tahun 2025, melalui 20 importir lada yang diperkirakan kebutuhannya akan terus meningkat mengingat promosi dan perkembangan kuliner di salah satu negara Amerika Selatan dengan potensi penduduk sekitar 34,6 juta jiwa itu terus memiliki pangsa pasar yang luas,” papar Wahid.
Oleh karena itu, peran KBRI Lima Peru, dalam memfasilitasi promosi produk unggulan Indonesia antara lain berupa keikutsertaan aktif dalam 10 tahun terakhir pada expo makan minum terbesar di Peru yakni EXPOALIMENTARIA.
“Peru juga mengimpor essensial oil senilai 1,8 juta USD pada tahun 2025 untuk memenuhi kebutuhannya. Indonesia adalah negara importir terbesar ke 7 bagi Peru pada tahun 2025. Tahun 2026 akan terselenggara pada 23-25 September, di Lima_Perudimana KBRI menyiapkan free : booth, akomodasi, konsumsi, transport lokal dan penterjemah yang terbatas dan saat ini masih ada peluang ketersediaan booth,” imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan dari kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Ketrin Triwidiastuty menegaskan, ada poin yang menjadi pertimbangan ekspor lada atau rempah ke Peru, yaitu penanganan penyimpanan khusus untuk lada, harus menjadi perhatian yakni masa expirednya, karena perjalanannya yang sangat jauh.
“untuk produk makro jaya yang dibutuhkan adalah mencari distributor yang memiliki merek dagang setempat,”ujar Ketrin.
Hal senada juga disampikan oleh perwakilan dari kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Dadang Rahmat. Jika ingin memasarkan produk lada asal Babel, pihak KBRI harus memberikan informasi secara detail, tentang keunggulan produknya.
“mengingat saingan yang sudah memasok kebutuhan merica atau essensial oil di Peru, sebagai bahan pertimbangan calon eksportir yang akan masuk,” ulas Dadang, saat melakukan zoom meeting.
Menangapi hal itu, Kabid Sarana Perdagangan dan Pengembangan Eskpor Disperindag Babel Agus Setia Rini, menjelaskan kegiatan business pitching yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bangka Belitung untuk memperkenalkan produk pelaku usaha asal Bangka Belitung berupa lada dan essensial Oil ke Negara Peru, karena ada peluang besar produk UMKM Babel masuk ke Peru.
“pada business pitching via zooming kali ini, guna mendukung informasi peluang pasar calon eksportir adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Lima Peru dan Setditjen Kemlu,” katanya.
Oleh sebab itu, ketika ada agenda business pitching dengan Peru, pihaknya langsung menginventarisir dan menyampaikan usulan pengusaha UMKM yang sudah punya pengalaman ekspor dan yang potensial ekspor. PT Makro Jaya Lestari sudah jadi pionir eksportir lada untuk asia dan eropa sejak dulu, Billiton Spice dengan terobosan produk juga telah rutin di market Hongkong hingga Belanda dan Cultivia menjadi produk siap ekspor dengan produk unggulannya.
Diakhir diskusinya, Kabid SPPE berharap, KBRI Peru, Kemenlu dan Kemendag melalui program yang dijalankannya, dapat memberikan dukungan untuk peluang produk UMKM Babel ke Peru, terlepas saat ini yang banyak jadi pertimbangan adalah logistik (terutama transportasi) dalam proses ekspor produk.
“Pengusaha UMKM juga diharapkan dapat terus melakukan koordinasi yang intensif untuk mengupdate informasinya,”pungkas Agus Setio Rini.
Pada kesempatan tersebut, PT. Makro Jaya Lestari menyampaikan presentasi produk lada unggulan mereka yakni FAQ dan Double Wash dengan kelengkapan sertifikasi untuk importasi lada yang sudah dimiliki dan rata-rata kapasitas produksi yang mencapai 120 ton/bulan.
Billiton Spice dengan keanekaragaman produk unggulan ekspor dengan brand sendiri juga telah dilengkapi sertifikasi. Billiton Spice selain menghadirkan produk lada hitam dengan aroma yang lebih kuat dan lada putih dengan kandungan piperin >5%, saat ini juga mengembangkan produk lada hijau yakni lada muda yang tidak terlalu pedas serta produk kombinasi lada dengan rempah lainnya.
Sedangkan Cultivia essensial oil memiliki keunggulan dalam prosesnya yang mengedepankan Circular Ekonomy serta melalui proses regenerativedan organic, berangkat dari kesadaran lingkungan pemulihan lahan pasca tambang kaolin di Belitung dengan tumpeng sari lada dengan tanaman atsiri. Cultivia dengan kapasitas produksi 1,2 ton penyulingan menghasilkan 200 kg essensial oil utamanya citronella, cajuput dan lemongrass siap memenuhi kebutuhan buyer.