Karhutla Ancam Satwa Liar, PT TIMAH dan Alobi Perkuat Penyelamatan di Bangka Belitung
TerabasNews, BANGKA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Bangka Belitung tidak hanya mengancam vegetasi, tetapi juga habitat dan keselamatan satwa liar. Kondisi ini mendorong PT TIMAH Tbk bersama Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Air Jangkang untuk memperkuat upaya penyelamatan dan rehabilitasi satwa yang terdampak.
Ketua Alobi Foundation, Langka Sani, mengatakan meningkatnya kejadian kebakaran hutan membuat satwa liar kehilangan habitat alaminya. Satwa yang berusaha menyelamatkan diri kemudian keluar dari kawasan hutan dan tidak jarang masuk ke permukiman masyarakat.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena Bangka Belitung merupakan wilayah kepulauan dengan habitat satwa liar yang relatif terbatas dan terfragmentasi. Ketika salah satu kawasan hutan terbakar, satwa akan mencari lokasi yang lebih aman, namun pergerakannya dapat terhambat oleh jalan maupun permukiman.
“Ketika habitatnya terbakar, otomatis membuat satwa liar keluar dari habitat alaminya. Mereka mencoba keluar dari zona kebakaran untuk mencari habitat yang baru, tetapi habitatnya terpotong oleh jalan atau permukiman masyarakat,” kata Langka.
Dalam beberapa bulan terakhir, ALOBI mencatat lebih dari 20 laporan terkait satwa yang terdampak karhutla. Satwa yang diselamatkan antara lain trenggiling, elang, kukang, tarsius, serta berbagai jenis burung.
Langka menyebut satwa yang paling banyak ditemukan dalam kondisi membutuhkan pertolongan adalah kukang dan tarsius. Kedua satwa tersebut memiliki karakteristik pergerakan yang membuatnya cukup rentan ketika habitatnya dilanda kebakaran.
Tarsius, misalnya, hanya mampu berpindah dengan lompatan sekitar tiga meter. Ketika kawasan di sekitarnya terkepung api, ruang gerak satwa ini menjadi sangat terbatas karena bergantung pada pepohonan yang masih tersisa.
Sementara itu, kukang Bangka yang merupakan satwa endemik Bangka memiliki pergerakan yang lebih lambat. Satwa ini berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cara memanjat atau berjalan di atas pepohonan sehingga rentan ketika kawasan hutan terbakar.
“Untuk satwa endemik kita, kita memiliki kukang Bangka. Mereka agak sedikit pelan gerakannya dibanding satwa lainnya dan tidak bisa seperti tarsius yang meloncat. Mereka dari pohon ke pohon dengan cara memanjat atau berjalan di atas pohon. Ini sangat berbahaya bagi mereka saat kebakaran,” ujarnya.
Dampak kebakaran juga dapat membuat satwa keluar dari kawasan hutan dan menghadapi risiko lain ketika mencari tempat aman. Salah satu kasus yang kini ditangani ALOBI adalah seekor kukang Bangka yang mengalami luka serius setelah diduga tersetrum tiang listrik ketika berusaha berpindah dari habitatnya.
Akibat kondisi tersebut, satwa itu harus menjalani tindakan amputasi pada bagian tubuh yang sudah tidak dapat diselamatkan. Kondisinya juga membuat satwa tersebut tidak memungkinkan untuk dikembalikan ke habitat alaminya.
Untuk menangani satwa terdampak karhutla, ALOBI bersama para pemangku kepentingan meningkatkan pemantauan dan merespons laporan masyarakat. Satwa yang ditemukan akan dievakuasi untuk mendapatkan penanganan, rehabilitasi, dan selanjutnya dilepasliarkan apabila kondisinya memungkinkan.
Langka menjelaskan, satwa yang masih dalam kondisi baik dan baru dievakuasi dari alam dapat langsung dikembalikan ke habitat yang lebih aman. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga agar insting liar satwa tidak hilang akibat terlalu lama berada dalam proses rehabilitasi.
Kolaborasi bersama PT TIMAH dalam penyelamatan satwa ini telah berlangsung lebih dari tujuh tahun. Menurut Langka, selama periode tersebut kerja sama melalui PPS Alobi telah mendukung pengembalian lebih dari 8.000 ekor satwa ke habitatnya.
“Untuk pusat penyelamatan satwa kita bekerja sama dengan PT TIMAH itu lebih dari tujuh tahun yang lalu. Kita telah sama-sama bersama PT TIMAH mengembalikan lebih dari delapan ribu ekor satwa ke habitatnya,” katanya.
Di tengah kondisi karhutla yang terjadi saat ini, kolaborasi tersebut kembali diperkuat. PPS Alobi Air Jangkang di Kawasan Kampoeng Reklamasi AIr Jangkang PT TIMAH menjadi salah satu tempat untuk menampung dan merehabilitasi satwa yang menjadi korban kebakaran sambil menunggu kondisi lingkungan kembali pulih.
Langka mengatakan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan PT TIMAH, BKSDA Sumatera Selatan, serta pemangku kepentingan lainnya untuk menangani satwa liar yang terdampak kebakaran.
“Pada saat ini kita akan lebih fokus menampung semua satwa yang menjadi korban kebakaran untuk direhabilitasi di PPS Alobi Kampung Reklamasi Timah di Jangkang. Kita menunggu musim hujan, sehingga ekosistem diharapkan kembali seperti semula. Setelah itu, kita akan bersama-sama mengembalikan satwa-satwa yang sudah kita rehabilitasi,” ujarnya.
Ia menilai dukungan berbagai pihak menjadi penting untuk menjaga keanekaragaman hayati Bangka Belitung, terlebih satwa endemik yang keberadaannya sangat bergantung pada keberlanjutan habitat.
Langka berharap kolaborasi bersama PT TIMAH dapat terus berjalan dalam menjaga kekayaan biodiversitas Bangka Belitung.
“PT TIMAH sangat berkontribusi dalam penyelamatan satwa liar Bangka Belitung melalui Alobi Foundation sebagai mitranya. Semoga ke depannya akan terus bersama-sama menjaga kelestarian kekayaan biodiversitas Bangka Belitung,” katanya.
Menurut Langka, upaya penyelamatan satwa bukan hanya tentang menangani dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menjaga agar satwa tetap memiliki ruang hidup yang aman.
“Kalau mengutip dari teorinya, kita yang telah merusaknya, tetapi kitalah yang bisa memperbaikinya,” tutupnya. (*)