Tegas dan Rasional

Korban Bangunan Ponpes Al Khoziny Menajadi Sorotan Peristiwa Meningkat

0 318

Nama : Kharina Khashi
Universitas : Bangka Belitung

(Sumber https://www.inilah.com/fakta-fakta-tragedi-ponpes-al-khoziny) dan (https://www.jatimonline.net/kronologi-data-korban-runtuhnya-bangunan-ponpes-al-khoziny-sidoarjo/)
Tragedi Ponpes Al Khoziny Peringatan Penting bagi Keamanan Bangunan Pendidikan
Sidoarjo Suasana duka menyelimuti Pondok Pesantren Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, setelah bangunan tiga lantai di lingkungan pesantren itu roboh pada Senin, 29 September 2025, sekitar pukul 15.35 WIB. Peristiwa ini terjadi saat para santri sedang beribadah di musala, dan menelan puluhan korban jiwa.
Menurut laporan DetikJatim.com tahun 2025, kejadian tersebut “menyisakan duka mendalam sekaligus sorotan tajam dari berbagai pihak.” Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan korban tewas mencapai 66 orang, sementara 104 santri berhasil diselamatkan. Dilansir dari Detik News, 2025. Tim Disaster Victim Identification atau (DVI) Polda Jatim juga sudah mengidentifikasi lebih dari 50 korban dari total kantong jenazah yang diterima.
Bupati Sidoarjo, Subandi, mengatakan bahwa bangunan pesantren tersebut tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). “Ini saya tanyakan izin-izinnya mana, tetapi ternyata nggak ada,” ujar Bupati Sidoarjo, Subandi, dikutip dari Detik Jatim tahun 2025. Temuan ini memicu dugaan bahwa lemahnya pengawasan terhadap pembangunan fasilitas pendidikan menjadi faktor utama penyebab tragedi tersebut.
Dari sisi teknis, pakar konstruksi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS, 2025) menilai robohnya bangunan disebabkan oleh lemahnya pondasi dan penggunaan material yang tidak sesuai standar. “Kolom ibarat kaki bangunan. Jika kolom lemah, bangunan pasti roboh,” jelasnya. Hal ini menunjukkan pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas konstruksi dan peran tenaga ahli bersertifikat dalam pembangunan fasilitas pendidikan.
Tragedi ini juga mengundang reaksi dari berbagai pihak. Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar aktivitas belajar di Ponpes Al Khoziny dihentikan sementara bila gedung masih dinilai tidak layak (Ngopibareng.id, 2025). Sementara itu, pemerintah berjanji akan membantu perbaikan melalui dana APBN, meski rencana ini menuai kritik terkait transparansi dan prioritas penggunaan anggaran (DetikNews, 2025).
Insiden ini menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan lembaga pendidikan, terutama pesantren, tidak boleh dilakukan tanpa memperhatikan izin resmi, standar teknis, dan keamanan struktural. Pesantren sebagai tempat pembinaan moral dan ilmu agama harus menjadi lingkungan yang aman bagi santri, bukan ancaman bagi keselamatan mereka.
Tragedi di Pondok Pesantren Al Khoziny diharapkan menjadi momentum untuk memperketat pengawasan pemerintah terhadap pembangunan fasilitas pendidikan di Indonesia. Keselamatan para pelajar harus ditempatkan sebagai prioritas utama agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

Sumber berita :

baca artikel Kompas.com “Kronologi Ambruknya Bangunan di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, 1 Meninggal, Puluhan Luka-luka”
Sumber: https://www.kompas.com/jawa-timur/read/2025/09/30/072400088/kronologi-ambruknya-bangunan-di-ponpes-al-khoziny-sidoarjo-1.

Baca artikel detikjatim, “Kata Pengasuh Ponpes Al Khoziny Soal Penyebab Bangunan Ambruk” selengkapnya https://www.detik.com/jatim/berita/d-8136523/kata-pengasuh-ponpes-al-khoziny-soal-penyebab-bangunan-ambruk

Leave A Reply

Your email address will not be published.