Oleh : Riki Juliansah Jurusan Sastra Inggris
Universitas Bangka Belitung
Oleh: [Riki Juliansah] Lokasi: Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Belinyu, Kabupaten Bangka.
Jauh dari hiruk pikuk modern, di balik rimbunnya hutan Kabupaten Bangka, bersemayam sebuah peradaban yang teguh memegang janji leluhur: Suku Mapur, atau yang dikenal juga sebagai Suku Lom. Identitas mereka tidak hanya diukir oleh kepercayaan dan kearifan lokal yang mistis, tetapi juga diikat erat oleh dua pilar budaya: Nuju Jerami, ritual syukur agraris yang sakral, dan Gebong Memarong, kampung adat yang menjadi wadah fisik dan spiritual tradisi tersebut.
- Nuju Jerami: Tujuh Hari Syukur di Batang Padi
Nuju Jerami, secara harfiah berarti “Tujuh Jerami,” adalah ritual adat terbesar Suku Mapur, dilaksanakan sekitar tujuh hari setelah panen raya padi ladang (beras merah). Ini adalah wujud syukur kepada Yang Maha Pencipta atas hasil panen yang melimpah sekaligus permohonan perlindungan untuk musim tanam berikutnya.
Namun, Nuju Jerami bukan sekadar perayaan panen. Ini adalah momen rekonsiliasi kosmik:
• Penyucian Alat Pertanian: Salah satu bagian paling unik yang jarang diulas adalah tradisi mengoleskan atau “memalet” nasi hasil tumbukan pertama pada Bereje (alat-alat bertani seperti parang, kapak, dan lesung) serta pada rumah adat (Memarong). Ini melambangkan penghargaan kepada benda mati yang telah berjasa dalam proses pertanian, sebuah pengakuan bahwa keberkahan tidak hanya datang dari alam, tetapi juga dari perkakas yang membantu manusia.
• Lesung dan Alu yang Sakral: Inti ritualnya adalah prosesi menumbuk padi. Lesung dan Alu yang digunakan diyakini memiliki “wali” atau penjaga, sehingga hanya dikeluarkan setahun sekali untuk ritual ini. Tumbukan dilakukan sebanyak tujuh kali, diikuti dengan menampi tujuh kali, sebuah angka keramat yang merefleksikan makna ‘tujuh’ (Nujuh) dalam nama tradisi.
• Pantangan Keras: Sebelum Nuju Jerami dilaksanakan, masyarakat Mapur dilarang keras mengonsumsi nasi dari hasil panen tahun tersebut. Melanggar pantangan ini dipercaya dapat mendatangkan musibah di musim tanam berikutnya, mengharuskan rumah dan isinya di-taber (disucikan/dinetralkan) oleh pemuka adat. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya penghormatan mereka terhadap siklus alam dan ritual. - Gebong Memarong: Replika Peradaban yang Bersemi Kembali
Jika Nuju Jerami adalah jiwa dari tradisi Mapur, maka Gebong Memarong adalah raganya. Gebong Memarong (Kompleks Rumah Memarong) adalah kampung adat yang terletak di Dusun Air Abik. “Memarong” sendiri adalah sebutan untuk rumah panggung tradisional Suku Mapur, yang terbuat dari bahan-bahan alami: dinding dari kulit kayu, lantai dari kayu ibul, dan atap dari daun rumbia atau nipah.
Kampung adat ini bukan sekadar replika, melainkan upaya sadar untuk menghidupkan kembali warisan yang nyaris punah. Gebong Memarong yang didirikan saat ini berfungsi sebagai:
• Pusat Ritual: Gebong Memarong menjadi lokasi utama penyelenggaraan Nuju Jerami, menjadikannya poros di mana seluruh masyarakat dan wisatawan dapat berkumpul.
• Pendidikan Budaya: Kompleks ini memiliki balai adat, galeri, dan bahkan direncanakan museum mini. Ini bertujuan agar generasi muda Mapur dapat melihat dan mempelajari secara langsung arsitektur dan kearifan lokal nenek moyang mereka.
• Homestay dan Ekonomi Lestari: Beberapa Memarong kini difungsikan sebagai homestay tradisional. Konsep ini tidak hanya menawarkan pengalaman menginap otentik, tetapi juga memicu ekonomi lokal, di mana masyarakat dapat menjual kerajinan anyaman Mapur, menyajikan kuliner khas, dan menawarkan bantal herbal yang diyakini berkhasiat. - Sinergi yang Mengikat: Nuju Jerami di Jantung Memarong
Kehadiran Gebong Memarong yang kokoh telah menjadi katalisator bagi kelangsungan Nuju Jerami. Tanpa wadah fisik yang representatif ini, ritual Nuju Jerami mungkin hanya menjadi perayaan sporadis.
Sebaliknya, Kampung Adat Gebong Memarong kini memancarkan aura sakral, di mana setiap tiang, dinding, dan atapnya menjadi saksi bisu tarian Campak, Dambus, dan puncak ritual menumbuk padi yang diselenggarakan saat Nuju Jerami. Sinergi ini mengirimkan pesan kuat:
Pelestarian budaya sejati tidak hanya tentang memegang teguh ritual (Nuju Jerami), tetapi juga tentang mempertahankan ruang hidup dan identitas fisik yang mendukung ritual tersebut (Gebong Memarong).
Inilah yang menjadikan Nuju Jerami di Gebong Memarong lebih dari sekadar atraksi wisata; ini adalah demonstrasi ketahanan budaya Suku Mapur/Lom. Dengan menghadapi tantangan modernisasi dan ancaman hilangnya lahan tanam, mereka menggunakan kedua pilar ini untuk menegaskan kembali keberadaan mereka di Pulau Bangka, memastikan bahwa aroma nasi merah dari panen suci akan terus mengepul di jantung rumah adat mereka selama generasi mendatang.