Categories: Bangka Selatan

Lonjakan Penyakit Tidak Menular di Bangka Selatan Capai 23 Ribu Kasus, Mayoritas Usia Produktif

Terabasnews, Bangka Selatan — Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, kini dibayangi situasi darurat kesehatan menyusul melonjaknya jumlah penyakit tidak menular (PTM) di wilayah tersebut. Ribuan warga usia produktif tercatat mengidap hipertensi, diabetes, hingga obesitas sepanjang triwulan ketiga tahun 2025.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Bangka Selatan, Agus Pranawa, mengatakan tekanan hidup, pola makan tak seimbang, dan perubahan gaya hidup menjadi faktor utama meningkatnya PTM.

“Hingga triwulan ketiga 2025 terdapat 23.054 kasus PTM baru. Paling banyak penderita berasal dari kelompok usia produktif,” kata Agus, Rabu (19/11).

Dari delapan jenis PTM yang banyak diderita masyarakat, hipertensi mendominasi dengan 14.126 kasus. Disusul obesitas 6.182 kasus, diabetes melitus 2.697 kasus, serta Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) 19 kasus.

Sementara itu, kasus hipertiroid tercatat 14, penyakit jantung koroner 6, stroke 6, dan gangguan ginjal 4.

Data tersebut menunjukkan bahwa PTM di Bangka Selatan tidak hanya meningkat secara jumlah, tetapi juga semakin beragam.

Menurut Agus, tingginya angka PTM pada kelompok usia produktif patut diwaspadai, mengingat kelompok ini menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi dan sosial.

Ia menilai perubahan gaya hidup beberapa tahun terakhir berperan besar, mulai dari tingginya mobilitas, konsumsi makanan cepat saji, stres, hingga minimnya olahraga.

“Terutama hipertensi menjadi salah satu penyakit paling tinggi di Kabupaten Bangka Selatan,” ujarnya.

Agus menambahkan, faktor keturunan memang berpengaruh, tetapi bukan pemicu utama. Kebiasaan konsumsi makanan tinggi garam, gula, lemak, serta gorengan menjadi faktor paling dominan. Pola tidur buruk dan kurangnya aktivitas fisik turut memperburuk kondisi.

PTM dikenal sebagai silent killer atau pembunuh senyap karena berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Banyak penderita baru menyadari kondisi mereka saat penyakit sudah masuk tahap berat dan menyebabkan komplikasi seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal.

“PTM jika tidak ditangani secepat mungkin risiko kematiannya bisa semakin tinggi,” kata Agus.

Pemerintah daerah disebut terus memperkuat edukasi kesehatan dan mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat untuk menekan laju peningkatan PTM.

TerabasNews

Recent Posts

Melayani Sepenuh Hati, Jasa Raharja Perkuat Edukasi Keselamatan dari Lingkungan Korban

TerabasNews, Jakarta, 28 November 2025 – Jasa Raharja terus menghadirkan pendekatan barudalam upaya menekan angka…

16 hours ago

Dewan Pertahanan Nasional Tinjau Program MBG di Kabupaten Belitung, PT TIMAH Serahkan Bantuan Peralatan Makan dan Alat Tulis untuk Siswa SDN 24 Tanjungpandan

TerabasNews, BELITUNG -- PT TIMAH Tbk mendukung program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber…

18 hours ago

Mobil Sehat PT TIMAH Hadir di Teluk Uma, Warga Antusias Dapatkan Layanan Kesehatan Gratis

TerabasNews, KARIMUN -- PT TIMAH Tbk kembali menunjukan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui…

18 hours ago

Gubernur Hidayat Arsani Apresiasi Pelaksanaan Rakerda Partai Demokrat untuk Dukung Pembangunan Babel

TerabasNews, PANGKALPINANG - Sebagai bentuk dukungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) terhadap aktivitas…

18 hours ago

Mengurai Hambatan Hilirisasi Timah: Gagasan Segar Dr Ichwan Azwardi dalam Buku Terbarunya

TerabasNews, PANGKALPINANG -- Kegelisahan intelektual dan pengamatannya terhadap berbagai diskusi mengenai hilirisasi mineral tambang menjadi…

19 hours ago

Ketika Kulit Sapi Jadi Peluang, Perjalanan Kerupuk Kulit Sapi WanMiQ Bersama PT TIMAH Tbk

TerabasNews, PANGKALPINANG -- Keinginan sederhana untuk menikmati kerupuk kulit sapi justru menjadi awal perjalanan usaha…

1 day ago