Categories: Opini

Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

Nama: Rico Aditya
Prodi: Sastra Inggris
Universitas: Universitas Bangka Belitung

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja di era digital. Kemudahan berinteraksi, berbagi informasi, dan mengekspresikan diri membuat platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) sangat populer di kalangan generasi muda. Namun, di balik manfaatnya, media sosial juga memiliki sisi gelap yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Artikel ini membahas dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental remaja, faktor-faktor yang memengaruhi, serta upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan psikologis. Kajian ini didasarkan pada hasil penelitian internasional dan nasional yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan stres pada remaja. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan pengendalian diri dalam menggunakan media sosial agar manfaatnya dapat dirasakan tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Masyarakat (2023) menemukan bahwa 64% remaja pengguna aktif media sosial mengalami gejala kecemasan ringan hingga sedang akibat paparan media sosial. Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan dan kesehatan mental remaja di era Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial kini menjadi ruang utama bagi remaja untuk bergaul, mengekspresikan diri, dan mencari identitas. Akses internet yang semakin mudah dan murah membuat waktu yang dihabiskan remaja di dunia maya terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan laporan We Are Social (2024), rata-rata remaja Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari untuk menggunakan media sosial.

Meski memberikan banyak kemudahan, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran baru. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin tinggi pula risiko gangguan kesehatan mental yang mungkin dialami. Menurut American Psychological Association (2022), penggunaan media sosial yang intens berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, kecemasan, dan gangguan tidur pada remaja. Tekanan untuk terlihat sempurna, keinginan mendapatkan validasi melalui “likes” dan komentar, serta paparan konten negatif membuat banyak remaja mengalami stres emosional tanpa mereka sadari.

Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat jelas. Sebuah studi oleh Lentera Kajian Kesehatan digital.

1. Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

     Media sosial memiliki dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi, ia dapat memperluas pergaulan, memberikan ruang berekspresi, dan menjadi sumber dukungan sosial. Namun, di sisi lain, media sosial sering kali menjadi sumber tekanan psikologis yang kuat.

Penelitian oleh Mdpi Journal of Behavioral Sciences (2023) menemukan bahwa remaja yang menghabiskan waktu lebih dari tiga jam sehari di media sosial memiliki kecenderungan 27% lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan yang menggunakan media sosial secara moderat.

Faktor utama yang memicu gangguan kesehatan mental antara lain:

            •           Perbandingan sosial (social comparison): Melihat kehidupan “sempurna” orang lain di media sosial dapat membuat remaja merasa hidupnya tidak cukup baik.

            •           Cyberbullying: Komentar negatif atau ejekan di dunia maya dapat meninggalkan luka emosional mendalam.

            •           FOMO (Fear of Missing Out): Ketakutan tertinggal dari tren atau aktivitas teman menyebabkan remaja terus memantau media sosial tanpa jeda.

            •           Gangguan tidur: Penggunaan ponsel hingga larut malam berdampak pada kualitas tidur dan kestabilan emosi.

Akibatnya, banyak remaja merasa cemas, mudah marah, sulit fokus belajar, bahkan kehilangan minat pada kegiatan sosial di dunia nyata.

2. Perspektif Remaja terhadap Media Sosial

    Menariknya, tidak semua remaja memandang media sosial secara negatif. Sebagian besar menganggap platform tersebut sebagai tempat mendapatkan dukungan dan inspirasi. Namun, berdasarkan penelitian Exploring Adolescents’ Perspectives on Social Media and Mental Health (2022), remaja juga mengakui bahwa tekanan untuk tampil sempurna dan mendapat pengakuan sosial sangat tinggi. Mereka sering merasa harus menyesuaikan diri dengan standar kecantikan, gaya hidup, atau popularitas yang sedang tren di dunia maya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga arena pembentukan identitas sosial dan emosional. Oleh karena itu, dampaknya terhadap kesehatan mental harus dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi durasi penggunaan, tetapi juga dari kualitas interaksi yang terjadi di dalamnya.

3. Upaya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

    Menjaga kesehatan mental di tengah arus media sosial memerlukan kesadaran diri dan disiplin. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

            1.         Membatasi waktu penggunaan media sosial. Remaja disarankan tidak menggunakan media sosial lebih dari dua jam per hari.

            2.         Memilih konten positif. Mengikuti akun yang edukatif dan inspiratif dapat membantu menjaga suasana hati tetap baik.

            3.         Detoks digital. Mengambil jeda dari media sosial beberapa hari dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan.

            4.         Meningkatkan komunikasi langsung. Interaksi tatap muka dengan keluarga dan teman membantu membangun dukungan emosional yang nyata.

            5.         Edukasi literasi digital di sekolah. Guru dan orang tua perlu menanamkan kesadaran tentang dampak psikologis penggunaan media sosial sejak dini.

Media sosial memang memberikan banyak manfaat bagi remaja, terutama dalam hal komunikasi dan pengembangan diri. Namun, jika digunakan secara berlebihan dan tanpa kendali, media sosial dapat menjadi pemicu gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi. Keseimbangan menjadi kunci utama agar teknologi tetap bermanfaat tanpa mengorbankan kesehatan psikologis.

Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial sangat penting dalam membantu remaja memahami batas sehat dalam penggunaan media sosial. Dengan kesadaran, pendidikan, dan pendampingan yang tepat, media sosial dapat menjadi sarana pengembangan diri yang positif, bukan sumber tekanan mental.

TerabasNews

Recent Posts

Peringatan Bulan K3 Nasional, PT TIMAH Tbk Gelar Berbagai Kegiatan di Seluruh Wilayah Operasional

TerabasNews, PANGKALPINANG -- PT TIMAH Tbk berkomitmen mengimplementasikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara konsisten…

7 hours ago

Prof. Albertus Wahyurudhanto Soroti Distorsi Pilkada Langsung akibat Biaya Politik Tinggi

TerabasNews, Jakarta — Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Prof. Dr. Albertus…

12 hours ago

UBB Resmi Lantik Dosen, Pejabat Akademik, dan PPPK Paruh Waktu Tahun 2026

TerabasNews, Bangka - Universitas Bangka Belitung (UBB) mengawali tahun 2026 dengan melantik dosen, pejabat akademik,…

1 day ago

Kepala Dispubadpora Bangka Tengah Resmi Dijabat Zulpan

TerabasNews, BANGKA TENGAH - Zulpan resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga…

1 day ago

Lantik 105 PNS, Enam Pejabat Eselon II Resmi Duduki Kepala Dinas

TerabasNews, BANGKA TENGAH - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah melaksanakan pengangkatan dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil…

1 day ago

Peringati Isra Mi’raj, Kapolres Bangka Selatan<br>Ajak Anggota Tingkatkan Iman

TerabasNews, Bangka Selatan - Polres Bangka Selatan mengelar peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1447…

1 day ago